#Khutbah Ied

Idul Fitri Momentum Membangun Ukhuwah

Oleh: Dr Uril Bahruddin Lc MA, Pengurus Majelis Tarjih dan Tajdid PWM Jatim

الله أَكْبَر … الله أَكْبَر … لاإله إلاالله والله أَكْبَر الله أَكْبَر ولله الحمد.

اللهُ أَكْبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا، وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً وأَصِيلا، لاإله اِلااللهُ ولانعْبدُ إلاإيّاه، مُخلِصِينَ لَه الدّيْن، وَلَو كَرِهَ الكَافِرُون، وَلَو كرِهَ المنَافِقوْن، وَلَوكرِهَ المشْرِكوْن، لاإلهَ اِلا اللهَ وَحدَه، صَدَقَ وَعْدَه، وَنَصَرَ عبْدَه، وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَه، لاإلهَ اِلاَّالله وَاللهُ أَكْبَر، اللهُ أَكْبَر وَللهِ الحَمْد.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، الحمد لله الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى محمد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.أَمَا بَعْدُ؛

قال الله تعالى في القرآن الكريم، هو أصدق القائلين:

يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساءا، واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام، إن الله كان عليكم رقيبا. يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون. يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا، يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم، ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما.

الله أَكْبَر … الله أَكْبَر … لاإله إلاالله والله أَكْبَر الله أَكْبَر ولله الحمد.

Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Pada pagi yang sangat indah ini, saat kumandang takbir bersahutan dengan kicauan burung dan gemericik rahmat dan ampunan dari Allah swt, pertama-tama saya ingin mengajak hadirin sekalian untuk meningkatkan taqwa kepada Allah swt. Taqwa dalam arti yang sangat luas, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Izinkanlah saya selaku khatib dalam khutbah yang singkat ini menyampaikan tiga pembelajaran penting tentang ukhuwwah, yang sesungguhnya ketiga momentum pembelajaran ukhuwwah itu telah sengaja diajarkan oleh Allah swt. kepada kaum muslimin yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan hingga selesai dan diakhiri dengan merayakan Idul Fitri.

الله أَكْبَر … الله أَكْبَر … لاإله إلاالله والله أَكْبَر الله أَكْبَر ولله الحمد.

Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Momentum pertama adalah:pembelajaran menguatkan Iman sebagai landaan membangun ukhuwwah.

Salah satu pilar utama bangunan masyarakat muslim adalah ukhuwwah. Karena itu, kokohnya pilar ini menjadi perhatian Rasulullah saw. saat membangun masyarakat Islam di Madinah. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dengan kaum Anshor, penduduk asli Madinah. Ukhuwwah yang dibangun oleh Rasulullah berbeda dengan persaudaraan keluarga atau ikatan pertemanan lainnya. Ukhuwwah yang dimaksud disini dibangun di atas landasan Iman dan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah swt., sehingga yang menyatukan mereka dalam ukhuwwah ini adalah simpul aqidah dan kesamaan dalam berpegang teguh dengan tali Allah swt.

Allah swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوااللَّهَلَعَلَّكُمْتُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”(Al Hujurat:10).

Sebagai contoh praktek dari ukhuwwah Imaniyah itu adalah kisah Salman Al Farisi dan Abu Darda’ yang telah dipersaudarakan oleh Rasulullah saw. Suatu hari Salaman mengunjungi rumah saudaranya Abu Darda’. Di sana Salman mendapati Ummu Darda’ berwajah cemberut, kemudian Salman bertanya kepadanya: “Ada apa wahai Ummu Darda’?”, “saudaramu Abu Darda’ tidak lagi menginginkan dunia”, jawab Ummu Darda’. Kemudian datanglah Abu Darda’ dan mempersilahkan makan, seraya berkata: “Saya lagi puasa”. Salman menjawab: “Saya tidak akan makan sebelum engkau makan”. Kemudian setelah itu Abu Darda’ mau makan.

Pada malam harinya menjelang tidur, Abu Darda’ berdiri untuk shalat malam, dicegah oleh Salman seraya berkata: “Tidurlah”. Kemudian tidur sebentar dan setelah itu bangun lagi untuk shalat. Ditegur lagi oleh Salman: “Tidurlah”, kemudian tidur lagi. Di akhir malam, Salman membangunkannya seraya berkata: “Sekarang saatnya untuk shalat”. Ketika kisah itu sampai kepada Rasulullah saw., beliau berkata: “Betul, apa yang dilakukan oleh Salman”.

Ukhuwwah Imaniyah ini dibangun di atas landasan Iman yang tujuannya adalah saling tolong menolong dalam merealisasikan kebaikan serta saling memberi dan menerima nasehat. Keterikatan mereka bukan hanya saat di dunia ini saja, namun berlanjut hingga di akhirat kelak. Pada saat semua jenis persahabatan telah bercerai-berai, ikatan ukhuwwah Imaniyah ini saja yang masih tetap kokoh abadi.Ukhuwwah ini juga merupakan ikatan hati dan perpaduan jiwa, bukan perkumpulan untuk mencapai kepentingan materi duniawi.

Allah berfirman:

ٱلْأَخِلَّاءُيَوْمَئِذٍبَعْضُهُمْلِبَعْضٍعَدُوٌّإِلَّا ٱلْمُتَّقينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa” (Az Zukhruf:67).

الله أَكْبَر … الله أَكْبَر … لاإله إلاالله والله أَكْبَر الله أَكْبَر ولله الحمد.

Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Dalam aktifitas mengajak manusia kepada kebaikan atau yang biasa disebut dengan dakwah, ukhuwwah Imaniyah ini sangat diperlukan. Agar proyek dakwah itu dapat berjalan dengan baik, maka para pelakunya harus senantiasa mengedepankan nilai-nilai ukhuwwah, seperti saling meminta pendapat dalam melakukan suatu aktifitas yang terkait dengan dakwah, dan tidak berjalan sendiri meskipun ia telah yakin dengan aktifitasnya itu akan menghasilkan kebaikan. Sikap saling memberikan kepercayaan sesama pelaku atau kelompok pelaku dakwah juga dibutuhkan, demikian juga pengorbanan baik harta maupun tenaga. Nilai-nilai ukhuwwah tersebut sangat diperlukan karena proyek dakwah yang besar itu tidak mungkin dapat dikerjakan oleh sekelompok orang saja.

الله أَكْبَر … الله أَكْبَر … لاإله إلاالله والله أَكْبَر الله أَكْبَر ولله الحمد.

Hadirin kamu muslimin dan muslimat jamaah shalat Idul Fitri yang mulia.

Momentum kedua: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran membangun kebersamaan

Di dalam al Quran al Karim, tepatnya pada surat al Kahfi, ada kisah yang tidak kalah menariknya dengan kisah Ashabul Kahfi, yaitu kisah tentang seorang raja bernama Zulkarnain. Seorang yang telah diberi kekuasaan yang besar oleh Allah swt., dilengkapi dengan segala sesuatu yang mendukung untuk keberlangsungan kekuasaannya, mulai dari tentara yang kuat, peralatan perang yang lengkap dan peradaban yang tinggi. Karena itu, dia menjadi penguasa bumi pada zamannya, seluruh raja-raja yang ada di dunia pada saat itu tunduk kepada kekuasaannya.

Allah berfirman:

إِنَّامَكَّنَّالَهُۥفِيالْأَرْضِوَءَاتَيْنٰهُمِنكُلِّ شَىيْءٍسَبَبًا

“Sungguh, Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu” (QS Al Kahfi:84).

Meskipun demikian, ada ungkapan menarik ketika dia mau membangun proyek tembok pembatas, sebagaimana diabadikan oleh Allah dalam al Quran, dia mengatakan:

فَأَعِينُونِى بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

Maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka” (QS Al Kahfi:95).

Zulkarnain ternyata masih membutuhkan bantuan untuk membangun tembok, dia tidak bisa mengerjakan sendiri. Seakan-akan dia ingin mengungkapkan bahwa dia telah memiliki kekuatan materi dan gagasan, dan rakyatnya memiliki kekuatan tenaga, namun kekuatan materi dan gagasan saja tidak mungkin bisa merealisasikan sebuah tujuan jika tidak didukung dengan kekuatan tenaga dari rakyatnya.

Itulah ungkapan al Quran yang sangat ringakas “maka bantulah aku dengan kekuatan”, namun memiliki makna yang sangat dalam. Ungkapan itu mengajarkan kepada kita bahwa untuk melakukan sebuah pekerjaan besar harus dengan menyatukan seluruh kekuatan dan potensi yang dimiliki, dengan membangun kebersamaan dan bukan malah mencerai-beraikannya. Masyarakat yang sukses adalah masyarakat yang dapat memobilisasi seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mewujudkan kebaikan bersama. Pemimpin yang cerdas dan sukses adalah pemimpin yang mampu merangkai seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya untuk merealisasikan tujuan yang diimpikan bersama.

Bagi para da’i yang telah memproklamirkan diri sebagai penyeru kebaikan, kebersamaan ini sangat diperlukan. Meminta pendapat kepada sesama aktivis dakwah adalah suatu kemestian untuk membangun semangat kebersamaan. Bukankah Rasulullah saw., nabi yang telah terjaga dari kesalahan juga banyak meminta pendapat dari para sahabatnya? Bahkan dengan jelas hal itu diperintahkan oleh Allah dalam al Quran:

وشاورهم في الأمر

“Dan bermusyawaralah bersama mereka dalam urusan itu”(QS Ali Imran:159)

Menurut Hasan Al Basri tujuannya bukan untuk mengambil pendapat dari mereka, namun untuk mengajarkan kepada mereka bahwa dalam musyawarah itu ada keberkahan dan agar umatnya mencontoh kebiasaan bermusyawarah tersebut.

Dengan membangun kebersamaan, mereka para da’i juga akan saling menghormati pendapat diantara mereka. Hanya mengagumi pendapat pribadi dan mengabaikan pendapat orang lain adalah penyakit yang akan menghancurkan bangunan dakwah itu sendiri. Dengan membangun kebersamaan juga akan terwujud saling menasehati antara para da’i. Bukankan Rasulullah telah menerima pendapat Hubab bin Al Munzir pada perang Badar terkait dengan posisi pasukan yang tepat? Bukankan Rasulullah juga telah menerima nasehat dari Salman Al Farisi untuk menggali parit pada perang Khandaq?

Momentum ketiga: Idul Fitri sebagai Momentum Memperkokoh Ta’awun dalam Kebaikan

Pada saat Rasulullah saw. hijrah dari Makkah ke kota Madinah, yang paling berperan membantu menyukseskannya adalah keluarga Abu Bakar As Ṣiddiq ra. Dalam strateginya, Rasulullah meminta Abu Bakar untuk mendampingi dalam perjalanan. Asma’ bin Abu Bakar ditugaskan untuk memenuhi kebutuhan logistik sejak keluar dari rumah, ketika singgah di goa Ṡur, hingga benar-benar Rasulullah dan ayahnya merasa aman dalam perjalanan mereka menuju Madinah. Abdullah bin Abu Bakar bertugas mengumpulkan berita dan menjadi mata-mata. ‘Ᾱmir bin Fuhair, bertugas menggembalakan kambing dengan mengikuti jalan yang dilalui oleh Rasulullah dan Abu Bakar agar jejak mereka terhapus oleh jejak kambingnya.

Itulah kisah ta’āwun keluarga Abu Bakar yang dalam menyukseskan perjalanan hijrah. Meskipun perjalanan hijrah itu dalam rangka memenuhi perintah Allah swt., yang pasti akan ditolong oleh-Nya, tetapi tetap saja Rasulullah melakukannya sesuai dengan perhitungan manusia, membuat perencanaan dan menggunakan strategi yang baik. Dalam peristiwa hijrah itu, Rasulullah saw. juga mengajarkan ta’āwun atau tolong menolong dalam ibadah dan kebaikan.

Ta’āwun adalah merupakan salah satu prinsip utama yang diajarkan oleh Islam. Allah swt berfirman:

وتعاونوا على البر والتقوى ولا تعاونوا على الإثم والعدوان

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan” (QS Al Maidah:2).

Dengan ta’āwun, masyarakat muslim akan bersatu dan saling menyintai, menjadi bagaikan tubuh yang satu sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah saw dalam hadisnya. Ta’āwun juga merupakan sarana untuk memberdayakan berbagai potensi yang berserakan di masyarakat, karena dengan ta’āwun, masing-masing dapat memberikan potensi yang dimiliki, sehingga akan terwujudlah maslahat yang lebih besar.

Dalam memerintahkan kaum muslimin untuk ta’āwun dalam berdakwah yang menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Allah bukan hanya mengungkapkan dalam bentuk perintah, tetapi Allah juga telah menunjukkan kepada kita bahwa di pihak lain, orang-orang kafir telah melakukan ta’āwun dan menyatukan langkah untuk menyebarkan kekafiran dan kebatilan mereka, masihkah kita belum juga mau berta’āwun untuk berdakwah dan menyebarkan al haq.

Allah berfirman:

يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا اليهود والنصارى أولياء، بعضهم أولياء بعض، ومن يتولهم منكم فإنه منهم

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka”(QS Al Maidah:51).

Demikianlah tiga pembelajaran dari momentum hari raya Idul Fitri ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari hari ke hari agar saat usia semakin bertambah, kita semakin sering bertaubat dan semakin pandai pula dalam bersabar.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ الله مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أقُوْلُ قَوْلِي هَذا وَأسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لَيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Idul Fitri Momentum Membangun Ukhuwah

Imam Tarawih Baca Mushaf

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *