#Artikel #Dakwah #Pilihan

Alasan Dakwah Muhammadiyah Eksis hingga Ratusan Tahun

Logo Muhammadiyah

Sekretaris Direktur Program Pascasarjana UMSurabaya Sholikhul Huda berpendapat, Muhammadiyah bisa tetap eksis sampai sekarang ini dikarenakan pola dakwahnya pada zaman dulu yang akomodatif dengan budaya. Pola inilah yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan yang kemudian menjadi basis pondasi awal pergerakan dakwah Muhammadiyah.

“Dakwah yang ditanamkan KH. Ahmad Dahlan itu sangat akomodatif dengan kultur yang ada di masyarakat saat itu. Sehingga Muhammadiyah bisa eksis sampai sekarang, karena pendekatan yang digunakan lebih kepada sosial kebudayaan ketimbang teologi ibadah. Seperti memberi makan anak yatim dan pendekatan kesenian. Itu menjadi pondasi yang sangat kuat sehingga Muhammadiyah bisa fleksibel di tengah-tengah masyarakat. Begitulah awal berdirinya,” ungkapnya.

Namun seiring berjalannya waktu, lanjut Sholikhul Huda, pola-pola dakwah Muhammadiyah mengalami pergeseran besar semenjak dipegang oleh alumni-alumni dari timur tengah. Akhirnya polah dakwah Muhammadiyah yang sekarang terkesan anti budaya, sebagai akibat dari pemikiran yang sangat literalistik. Pemikiran itu berbanding terbalik dengan KH Ahmad Dahlan yang melakukan relasi individu, sosial, dan politik dengan sangat terbuka, inklusif dan bisa berkolaborasi dengan berbagai pihak.

“Faktanya kini pola-pola tersebut banyak terdistorsi. Banyak persepsi dari para pemikir, para ilmuwan dan para sarjana yang menganggap Muhammadiyah ini pola dakwahnya agak kaku pada kebudayaan. Efeknya itu berdampak pada relasi sosial di masyarakat bawah yang sering terjadi konflik ritual kebudayaan, misalnya slametan dan tahlilan,” terangnya.

“Muhammadiyah pernah merumuskan dakwah kultural. Itu sebenarnya respon dari ketekanan-ketekanan kebudayaan di masyarakat bawah oleh pola-pola dakwah yang dibawakan Muhammadiyah, sehingga terjadi gesekan. Dari situlah kemudian Muhammadiyah berusaha meluruskan kembali pola dakwahnya agar menjadi lebih arif, bersahabat, dan bersinergi dalam konteks kebudayaan,” paparnya.

Menurut dia, harus ada rekonstruksi paradigma dalam melihat dan menerjemahkan antara budaya dan teologi. Supaya para kader Muhammadiyah dapat membedakan antara ranah teologi dan budaya. Karena, masih banyak kader Persyarikatan yang belum bisa membedakan itu. Yang seharusnya budaya malah dipahami dan diukur secara teologi, dan sebaliknya.

“Ini yang membuat rancu. Misalnya ritual-ritual masyarakat muslim pedesaan terkait sedekah bumi. Bagi mereka itu adalah ritual (yang bernilai) kebudayaan sebagai wujud syukur. Tapi di lain pihak malah yang demikian itu malah dipandang secara teologi. Dalam konteks ini kita perlu mengonstruksi paradigma dalam melihat kebudayaan,” jelas dia. MTN

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *